DUDUK 2 JAM JADI JUTAWAN

Nih Dia !

Tampilkan postingan dengan label NAHDLOTUL ULAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NAHDLOTUL ULAMA. Tampilkan semua postingan

GUS IPUL KECAM HASYIM MUZADI


JEMBER – Untuk kali kesekian Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor yang juga Wakil Gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf (biasa disapa Gus Ipul) mengecam Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi terkait menuver politik Hasyim saat Pilpres lalu yang membuat kredibilitas NU turun.

Menurut Gus Ipul, jika kader NU menyatakan dukungannya kepada salah satu Capres tidak menjadi soal. Tapi jika pengurus apalagi Ketua yang merupakan symbol NU ikut dalam aksi dukung mendukung akan mengakibatkan kredibilitas NU turun drastic. Terlebih lagi calon yang didukung ternyata kalah.
Seharusnya, Ketua PB NU berpikir mengenai kemaslahatan ummat bukan menjadi tukang stempel bahwa Capres A itu dari NU, dan Capres B itu bukan dari NU.
Diakui bahwa banyak warga NU yang memilih pasnagan JK Win, tapi juga tak sedikit yang memilih pasangan SBY Budiono dan Megapro. Mereka juga kader NU yang menurut Gus Ipul perlu diwadahi.
“Ya..jangan begitulah. Semua kan butuh pengayoman. Lalu bagaimana yang mendukung di luar JK Win. Tapi mendukung SBY Budiono. Apalagi bagaimana kalau ternyata SBY Budiono, faktanya memang memenangnkan Pilpres kemarin,” ujar Gus Ipul.
Meski Ketua PBNU tidak mendukung SBY Budiono, yang ternyata menjadi pemenang di Pilpres 2009 kemarin, Gus Ipul yakin SBY – Budiono dapat menempatkan beberapa kader NU dalam jajaran kabinetnya.
Menurut Gus Ipul, ada beberapa figur kader NU yang berkualitas di NU seperti Muhaimin Iskandar, dan Muhammad Nuh.
Gus Ipul, tetap berharap pengalaman Pilpres kemarin bisa dijadikan pelajaran bagi warga NU. Agar dalam muktamar NU mendatang tidak memilih figure Ketua yang menjadi tukang stempel karena menurut Gus Ipul, bahwa masih banyak figur NU yang pantas memimpin NU ke depan. Diantaranya, KH Agil Siraj, Mustofa Bisri, dan Ali Maschan Musa.kim

[+/-] Selengkapnya...

JASMAS DIJADIKAN POLITIK UANG KANDIDAT

*Jelang Konfercab PCNU

JEMBER - Sepuluh hari menjelang konferensi cabang (Konfercab) Nahdatul Ulama Jember, muncul isu politik uang yang dilakukan kandidat Ketua Dewan Tanfidz.

Yang memalukan, politik uang itu berupa iming-iming dana Jaring Aspirasi Masyarakat (Jasmas) dari anggota DPRD.
Hal itu disampaikan Sekretaris MWCNU Kecamatan Kaliwates Ahmad Rifai. Kata dia ada orang yang mencalonkan diri sebagai kandidat Ketua Dewan Tanfidz HM Madini Farouq yang juga Ketua DPRD menjanjikan dana Jasmas jika terpilih.
"Sekitar 2 bulan lalu, banyak sekali pengurus MWCNU dikumpulkan di Pondok Riyadhlus Solichin oleh Gus Mamak. Saat itu kita dijanjikan dana Jasmas Rp 10 juta untuk tiap MWC," kata Ahmad Rifai.
Gus Mamak kata dia juga menyatakan akan maju sebagai Kandidat Ketua Dewan Tanfidz PCNU Jember karena sudah mengerti politik, dan jalannya pemerintahan.
"Kami menilai janji itu tidak pantas dijualbelikan untuk kepentingan merebut jabatan di konfercab PCNU," ujarnya.
Sejauh ini sudah muncul tiga kandidat Ketua Dewan Tanfidz PCNU diantaranya DR KH Abdullah Syamsul Arifin (Ketua Bahtsul Masail NU Jember) dan H Sofyan Tsauri (Wakil Ketua PCNU Jember), serta HM Madini Farouq (Ketua DPRD Jember).
Tidak hanya sesepuh NU semisal KMA Syaiful Ridjal AS, yang geram terhadap isu itu. Pengasuh Ponpes As-Ashidiqi Putri Talangsari ini juga mengecam indikasi politik uang dari seorang kandidat itu.
"Sebelumnya saya tak tertarik. Tapi sekarang terpanggil untuk menyikapinya karena Konfercab NU kok dibelokkan dari kitohnya dengan cara politik uang," ujar Gus Syef.
Di sisi lain, KH Khotib Umar, kyai khos Jember yang sangat dihormati tidak lagi membicarakan kriteria. Tapi sudah menyebut nama.
"DR KH Abdullah Syamsul Arifin dicalonkan sebagai Ketua Dewan Tanfidz, dan KH Muchyidin Abdushomad sebagai Ketua Rois Syuriahnya. Tapi soal pilihan tergantung pemegang hak suara, ranting, dan MWCNU,” ujarnya.
Di sisi lain, HM Madini Farouq alias Gus Mamak sejauh ini sudah berpisah dengan PKB dan mendekat ke PKNU itu mengaku kabar politik uang itu tidak benar.
"Itu yang tidak benar. Dana Jasmas itu bukan diperuntukkan menjelang konfercab dan tidak ada kaitannya dengan itu," kilah Gus Mamak.
Dia menambahkan, dana Jasmas yang akan diberikan ke MWC NU se-Jember termasuk PCNU Kencong itu sudah sejak awal direncanakan.
"Saya tegaskan yang menyumbang dana Jasmas untuk basis NU itu dari anggota dewan yang memiliki latar belakang NU. Tak hanya PKB, PKNU, PPP bahkan juga PDIP," ujarnya.
Dia menandaskan, kalau dia belum ada rencana untuk maju sebagai pengurus PCNU. "Saya tegaskan, saya belum tentu maju, tradisi NU biasanya calon itu justru dicalonkan bukan mencalonkan diri," tegasnya. kim


[+/-] Selengkapnya...

KYAI NU TOLAK POLITIK UANG MUSCAB PCNU


• Nilai Ke-NU-an Harus Ditegakkan

JEMBER - Wacana politisasi dan politik segala cara baik dengan uang, dan aksi lain di Musyawarah Cabang (Muscab) NU Juni 2009 mendatang mulai dikhawatirkan pengurus Kecamatan, Kyai hingga ranting. Karena akan menyebabkan kebesaran nama NU sebagai organisasi nilai Islam yang besar ternoda dengan kepentingan siyasah buruk itu.

Terakhir, rombongan Ketua MWCNU Kecamatan Kaliwates, Muhammad Nur, Rifai, dan Hadi Arridho sebagai pengurus dan tokoh pemuda NU mendatangi Gus Syaif alias KMA Syaiful Ridjal, AS, di kediamannya di Ponpes Islam Asshidiqi Putri (ASHRI) Jl KH Shiddiq Jember.
Pengurus NU tingkat Kecamatan ini meminta Tausiyah kepada para kyai sepuh, dan kyai yang membesarkan NU selama ini semisal yang pernah dilakukan ke KH Khotib Umar, kyai khos Jember sebelumnya.
Dalam perbincangan itu terungkap bahwa Gus Syef merasa ikut bertanggungjawab jika NU ada apa apa. Termasuk jika arah perjuangan NU menjadi melenceng dari pakem. Sebab, menurut pesan dari Almarhum KH M Shiddiq, yang juga pendiri NU bahwa politik NU adalah mengedepankan kebenaran, kebaikan, dan kepentingan agama bukan mendahulukan kepentingan duniawi.
“Mendiang Almarhum abah saya, mengatakan bahwa politik NU adalah Taqdimuddin ‘ala Siyassah dan setelah itu Assiyasah Arrabaniyah. Yang artinya Politik NU itu tentang kebenaran, dan kaidah kebenaran agama bukan politik menjanjikan sesuatu,” ujar Gus Syef.
Diminta bagaimana kriteria Calon Ketua PCNU Jember yang akan datang, kata Gus Syef di NU gudangnya kriteria. Bahkan kriteria model pemimpin yang bagaimana di NU lengkap. Tapi, ada dua hal yang harus diingat, bahwa yang tidak menggunakan uang, dan janji duniawi, serta dicalonkan bukan mencalonkan diri. Termasuk yang tidak menjanjikan.
“Kalau tradisi kuat NU, dan harus dipegang itu ya dua aja. Bukan yang menjanjikan, dan mencalonkan diri. Tapi, yang dicalonkan dan tidak menanjikan sesuatu,” ujar Gus Syef.
Dalam pembicaraan itu, terungkap bahwa KH Hotib Umar, sesepuh NU di Jember dan Kyai Khos Jember ini telah menyebut nama yang dikehendaki sesepuh NU. Bukan HM Madini Farouq, Ketua DPRD sekarang ini, tapi Gus ‘Aab alias DR KH Abdullah Syamsul Arifin, dari Ponpes Sumberkalong, Bangsalsari untuk dipilih sebagai Ketua Tanfidziyah NU, dan Rois Syuriah NU nya yang dikehendaki adalah KH Muhyidin Abdusshomad, yang akan berakhir masa jabatannya sebagai Ketua PCNU 2009 ini.
Dengan begitu, track record Gus Mamak alias HM Madini Farouq, S.Sos, yang ingin mencalonkan diri sebagai kandidat Ketua PCNU Jember itu mendapat perlawanan dari Kyai khos, dan beberapa kyai non Partai alias tradisional. Bahkan aksi siyasah mencalonkan diri HM Madini Farouq, dalam pertemuan 2 bulan lalu juga terungkap, karena menjanjikan anggaran Jasmas kepada tiap MWCNU dan ranting NU selain dalam pertemuan itu para undangan diberi sangu.
“Yang hadir saat itu, dipenuhi pengurus Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Kita mulai khawatir dengan keinginan kuat Gus Mamak itu. Jangan jangan NU nanti tidak sesuai kehendak kyai dan sesepuh NU,” ujar Rifai, pengurus MWCNU Kaliwates.kim

[+/-] Selengkapnya...

WARGA NU TAK MILIH CAPRES BERPOLITIK UANG


JEMBER - Politik uang diprediksi menjadi momok bagi momen politik Pemilihan Presiden 2009 mendatang.
Ketua PBNU Hasyim Muzadi memperingatkan agar kalangan Nahdliyin untuk tidak memilih calon presiden yang melakukan praktik kotor dengan politik uang.
"Saya warning pada seluruh warga NU agar yang penting capres yang berbuat money politik, jangan dipilih !," tandas Hasyim Muzadi di depan ratusan kyai se Tapal Kuda di Ponpes
Al Qodiri Jember, Kamis (14/5).
PBNU merasa perlu segera menyadarkan umat tentang bahaya politik uang. "Bahayanya menghilangkan idealisme perjuangan Islam. Orang-orang yang mbagi duit secara luar biasa, itu duwit dari mana ? . Kalau memilih duit, maka akibatnya mereka merasa membeli kyai dan umat, maka tidak lagi ada amanah dalam kepemimpinan," ujarnya.
Dengan begitu, maka secara tidak sadar umat memilih pemimpin yang tidak jelas karakternya. Maka dia berharap jangan sampai capres itu terlpilih.
"Money politik tidak hanya merusak secara ekonomi, namun juga kebangsaan. Kita tidak bisa menyalahkan umat saja, sebab karena sudah ada faktor kemiskinan seperti ada 2 kilogram beras untuk memilih partai A dan lainnya," bebernya.
Ancaman adanya politik uang itu dia juga meminta agar para kyai jangan sampai terkena politik uang sebab bisa mengancam kemaslahatan umat. Tapi, yang jelas dirinya tidak bisa menyalahkan umat tapi juga kyainya diminta jangan begitu.
“Jangan salahkan ummat melulu. Tapi, kyainya juga jangan seperti itu. Tapi kalau ada uang diterima saja, tapi jangan pilih orang yang memberi uang itu,” tambah Hasim.
Dia meminta warga Nahdliyin murni dalam memilih pemimpin. Dan bahkan harus ada keseimbangan dalam kebebasan ummat nantinya dalam memilih pemimpin. Yang penting harus bertanggungjawab. Ummat juga tidak boleh sembarangan. Artinya memilih bebas itu dengan kesadaran tinggi akan kebebasan haknya tapi bertanggungjawab.
“Jangan sampai bikin gol bunuh diri. Kalau memilih yang menggunakan politik uang jelas bunuh diri, itu namanya. Karena nantinya NU merasa telah dibeli dan malah menggusur NU. Makanya susah kalau tidak dari orang NU sendiri. Yang penting dalam Pilpres nanti, yang pake politik uang jangan dipilih,” tegasnya lagi.kim


[+/-] Selengkapnya...

vHASYIM MINTA NU JANGAN BIKIN GOL BUNUH DIRI


JEMBER - Ketua PBNU Hasyim Muzadi mengingatkan agar kalangan Nahdliyin dalam Pemilihan Presiden nantinya bisa bebas memilih, tapi harus juga bertanggungjawab dalam menentukan pilihannya.

Hasyim, didampingi pengasuh Ponpes Al Qodiri Jember mengatakan tidak ingin saat sudah menjatuhkan pilihannya tapi justru ditinggal oleh orang yang sudah dipilih.
"Dalam memilih pemimpin hendaknya kebebasan diseimbangkan dengan tanggung jawab dan mesti ada ukurannya dalam kemaslahatan agama, dan negara. Kendati diberi kebebasan, maka kalau besar jangan sampai megggusur NU itu namanya gol bunuh diri," timpal Hasyim Muzadi, Kamis (15/4).
Ditanya, Hasyim Muzadi, pernah mencalonkan diri menjadi Cawapres mendampingi Megawati, dikatakan itu sebagai persoalan masa lalu. Bahkan tujuan pencalonannya saat itu dengan mendampingi Megawati itu dia tidak terlalu ambil pusing.
Bahkan diakuinya sebagai sarana untuk mencerahkan bagi ummat. "Yang lalu biarkan jadi masa lalu, saya dulu mau jadi cawapres agar ada jaminan Islam moderat bisa jadi mainstream," ujarnya.
Dengan begitu, kata dia Islam tidak face to face dengan NKRI dan negara berasaskan Pancasila ini dengan proklamasinya. Dan ketika tidak jadi terpilih maka bisa menjadi refleksi.
"Saya ya tidak stress karena tidak merasa kehilangan," bebernya.kim

[+/-] Selengkapnya...

KH HASYIM MUZADI ISYARATKAN MERAPAT KE JK


JEMBER - Situasi politik nasional kian penuh teka teki. Bahkan kali ini lawatan Capres Jusuf Kala-Wiranto (JK-Win) ke basis Nahdliyin di Situbondo Jawa Timur kemarin memunculkan prediksi baru.

Terutama di pentas politik nasional terkait posisi Nahdlotul Ulama (NU) sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini menjelang Pemilihan Presiden Juli 2009 mendatang.
Lawatan JK ke Situbondo Jatim itu seakan menjadi angin segar bagi warga NU untuk merapat ke JK. Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, kepada wartawan di acara Silaturrahmi dengan PCNU Jember dan PWNU Jawa Timur di Pondok Pesantren Al Qodiri Gebang Jember, ini tersirat mengisyaratkan JK-Win merupakan pasangan ideal yang layak dilirik warga Nahdliyin.
"Saya ini hanya mengatakan JK itu orangnya cepat, tepat dan apa yang dikatakannya itu sudah terjadi. Saya senengnya sama JK di situ. Dia bukan saja bicara halus, namun juga bicara benar. Tapi saya tidak tahu kata-kata saya akan diletakkan dimana, yang jelas dikomentar saja kan," ujar Hasyim Muzadi, Kamis (14/5).
Kendati begitu PBNU secara institusi tidak akan menentukan arah secara komando pada capres dan cawapres mana yang akan dipilih.
"Kami hanya berkewajiban memberikan pencerahan sepenuhnya kepada warga NU dan ummat di Indonesia. Lebih karena pengetahuan dan tanggung jawab itu kepada ummat. Bukan karena ngawur dan bukan karena sembako," bebernya.
Soal ketemu empat mata dengan JK di Surabaya, KH Hasyim Muzadi buru-buru menampiknya.
"Tidak ketemu, saya hanya salipan.Dia pergi dan saya baru datang. Dia sendiri kan orang NU, wajar kalau mendekati NU. JK itu orang NU, jadi kalau ada kegiatan NU ya dlusap-dlusup saja karena bukan orang lain," jlentrehnya.
Dia menambahkan, soal komunikasi politik sudah jauh dilakukan dengan tokoh manapun. "Saya ketemu dengan siapa saja, beberapa kali ketemu Prabowo, SBY, Bu Mega apalagi, lalu Pak Wiranto," pungkasnya.kim


[+/-] Selengkapnya...

KETUA PBNU : “JANGAN PILIH CAPRES YANG BERPOLITIK UANG”


Tindak Lanjut Pertemuan 500 Kyai di Ponpes Langitan

JEMBER - Bertempat di Pondok Pesantren Al Qodiri Gebang Jember pimpinan KH Ahmad Muzakki Syah pertemuan lanjutan silaturrahmi kyai PBNU, PWNU, dan MUI se Jawa Timur beberapa waktu lalu menghasilkan beberapa point penting menyikapi politik terkini bangsa Indonesia.

Diantaranya adalah perilaku politik warga Nahdhiyin, dalam percaturan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menolak semua bentuk praktek money politic (politik uang). Dalam pertemuan di Ponpes Langitan beberapa waktu lalu, seluruh pengurus NU di semua tingkatan dan ulama pengasuh Ponpes di seluruh Indonesia diserukan untuk mawa diri.
Mawas diri (instrospeksi) itu terkait kesalahan, kekhilafan, dan ketelodran dewasa ini dalam perilaku politik sehingga mengakibatkan menurunnya martabat perjuangan serta melemahnya persaudaraan ke NU an (ukuhuwah Nahdliyin).
Kesalahan itu utamanya terjadi perpecahan yang diakibatkan kepentingan sesaat. Bahkan diserukan untuk mempertinggi kewaspadaan terhadap bahaya yang mengancam NU semisal Atheisme yang bertentangan dengan garis moderasi NU, Liberalisme pemiiran keagamaan yang mreusak sendi sendi keimanan, syariat serta budaya religi Nahdliyin.
“Semua itu jelas akan merusak dan memotong haris hidup (lif line) perjuangan NU,” ujar Ketua PBNU KH Hasim Muzadi.
Muktamar NU ke 32 Januari 2010, di Makasar nantinya harus mampu menyelamatkan NU dari faham ekstrem kiri dan kanan (Tathorruf Tassyadudi dan Tathorruf Tasahuli) serta bersih dari intervensi dari manapun.
Bersamaan dengan itu pengurus / ulama serta warga NU diminta untuk mewaspada money politic yang beredar di setiap pemilihan segala tingkatan karena money politic berakibat sangat buruk ; merenggangkan hubungan ulama dan umat, terjadinya fitnah, menjauhkan pemimpin dan rakyatnya, menghilangkan sifat jujur (shiddiq) dan amanat (amanah) dari pemberi money politic.
Karena telah merasa telah membeli kyai dan umat sehingga pada gilirannya bangsa ini dipimpin oleh kesewenang – wenangan sreta perselingkuhan politik yang tak bertanggungjawab.
“Kita tetap boleh menerima pemberian tapi bukan yang menghancurkan perjuangan dan yang merusak moral. Martabat NU bisa rusak gara-gara money politic,” tegas Hasim Muzadi, di depan ratusan kyai yang hadir.
KH Hasyim Muzadi, juga menyeruhkan seperti hasil pertemuan di Langitan bahwa keadaan negara masih dalam carut marut akibat pertikaian dan saling tuduh antar pemimpin. Artinya segala sesuatu dapat saja terjadi, yang baik dan yang terburuk.
Maka seluruh jajaran NU diserukan merapatkan barisan (dengan terus beristighfar dan membaca doa hisz nasor) secara berjamaah serta kembali dalam bimbingan PBNU, sesuai dengan prinsip imaroh agar umat tidak tersesat jalan di saat suasana memburuk.
“Sudah terbukti berkali – kali bahwa jalan sendiri – sendiri dan tidak disiplin telah membuahkan kegagalan dan kerusakan di mana mana. Semoga Allah melindungi kita dan Indonesia,” sergahnya.
Dalam wawancara singkatnya, Ketua PBNU Hasyim Muzadi juga berbicara panjang terkait pemilu presiden. Sebelum ada perhelatan dan keputusan calon calon itu, PBNU menghimbau agar warga Nahdliyin memilih capres yang tidak menggunakan politik uang. Bahkan dihimbau untuk tidak memilih capres seperti memilih kucing dalam karung.
Dua hari menjelang batas akhir pendaftaran capres cawapres ini arah dukungan warga Nahdliyin belum bisa dipastikan.Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi tidak menampik bahwa baru ada kader NU bernama Jusuf Kalla yang merupakan warga dari Nahdliyin.
Menurutnya, yang terpenting adalah warga NU jangan sampai membuat gol bunuh diri. Artinya warga NU jangan sampai memilih calon pemimpin yang akhirnya justru menghancurkan warga NU sendiri. “Kita PBNU berkepentingan memberikan pencerahan kepada warga NU agar tidak membuat gol bunuh diri,” ujarnya.
Hasyim membantah melakukan pertemuan dengan JK di Situbondo kemarin. Tapi kata dia bahwa Jusuf Kalla (JK) diakui sebagai warga NU. Makanya dia tidak mempermasalahkan ketika JK hadir di komunitas NU mana saja.
“Lah wong warga NU, dia itu NU. Mau ke mana saja yang tidak ada salahnya. Blusukan ke mana saja, kalau warga NU sendiri kan tidak ada masalah,” ujarnya.
Secara institusi dia menolak pernyataannya di salah satu iklan JK itu dianggap sebagai PBNU mendukung JK. Sebab, dia mengaku hanya dimintai pendapat. Ternyata rekaman itu untuk iklan. “Tapi saya sudah minta untuk didrop kan. Dan besoknya sudah tidak ada lagi kan,” ujarnya.
Sejauh ini, Hasyim menegaskan secara pribadi penilaiannya terhadap JK adalah sebagai sosok yang bicaranya halus, tapi juga bicaranya benar. Bahkan JK dipuji Hasyim sebagai orang yang sering bertindak cepat, dan hanya membicarakan sesuatu yang benar – benar terjadi.kim

[+/-] Selengkapnya...