DUDUK 2 JAM JADI JUTAWAN

Nih Dia !

Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN HIDUP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN HIDUP. Tampilkan semua postingan

HUTAN ARGOPURO DAN IJEN WASPADA KEBAKARAN

JEMBER - Memasuki musim kemarau ini, Badan Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Jawa Timur di Jember mewaspadai kebakaran hutan.

Kepala BKSDA JEMBER Abdullah Effendi Abbas memaparkan, titik rawan kebakaran hutan tidak bisa diketahui secara persis. Tapi menurutnya ada dua titik rawan kebakaran yang perlu diwaspadai : yakni hutan lokasi wisata di Pegunungan Ijen dan Pegunungan Hyang Argopuro.
Selain kondisi pepohonan ada beberapa yang mengering, juga rawan sekali jika ada masyarakat yang memercikkan api berdekatan dengan daun pohon yang kering.
"Percikan api di sana biasanya bisa terbang dan mengenai fauna yang kering. Itu sangat memungkinkan terjadi kebakaran," ujarnya.
Ditambahkan, sebagai langkah antisipasi dia akan koordinasi dengan masyakarakat untuk menyiapkan titik air sebagai pemadam api jika terjadi kebakaran.
"Kita minta warga perambah hutan tidak lagi membakar hutan dalam membuka lahan. Kita larang keras,” tegasnya.
Dia juga akan bekerjasama dengan Pemadam Kebakaran di Kabupaten Jember dan Bondowoso. Dari data BKSDA, kebakaran hutan pernah terjadi di Kawasan Cagar Alam dan Hutan Wisata Ijen di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (DPL) - 1.000 meter DPL tahun 2008.
Lahan yang terbakar mencapai 80 dan sulit dipadamkan. Senada dengan itu, Kepala Tata Usaha Taman Nasional Meru Betiri Sumarsono, menurutnya di musim kering ini masyarakat diminta tak sembarangan menyalakan api dan membuang puntung rokok.
"Kita terus sosialisasikan ini kepada warga di sekitar Taman Nasional dan wisatawan agar hati - hati menggunakan api dan membuang puntung rokok," tegasnya.kim


[+/-] Selengkapnya...

RATUSAN AYAM PRABOWO MATI

• PROYEK PERCONTOHAN GAGAL, AYAM WARGA TERTULAR

JEMBER – Proyek Percontohan ternak Ayam Arab, milik Dinas Peternakan Kabupaten Jember gagal total.

Ratusan ayam yang diberikan ke kelompok Aneka Tani semua mati terserang penyakit. Tak hanya itu, penyakit itu juga menular ke ayam-ayam milik warga sekitar.
Sampai kini ada ratusan ekor, dan kemungkinan jumlah ini akan terus bertambah. Di lokasi kejadian, sehari saja jumlah ayam yang mati mencapai puluhan.
Tapi kondisi ini lebih parah lagi. Ada 300 ekor ayam di kandang warga terlihat mati semua. Tak satupun dari ayam bantuan itu hidup.
“Padahal sehari. Tak satupun dari ayam-ayam yang diberikan kepada kami hidup,” ujar Prabowo, anggota kelompok Tani Aneka Tani, Dusun Gawok, Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan.
Kata dia ayam yang diberikan ke kelompoknya, berjumlah 500 ekor. Prosesnya juga tidak jelas, tiba-tiba langsung diberi bantuan untuk mengelola peternakan. Saat itu alasannya untuk proyek percontohan.
“Seharusnya kalau proyek percontohan ada pengawalan. Kami tidak tahu apa-apa langsung diberi dan disuruh mengelola. Akhirnya kami belajar ke peternak yang pernah sukses. Ini kami lakukan dengan uang hasil utangan KPPE,” kata Prabowo lagi.
Dalam perjalanannya, tiba-tiba banyak ayam yang lemas. Tak lama langsung mati. Awalnya hanya 10 ekor. Menjelang siang bertambah dan terus bertambah.
“Kemarin masih ada 300 ekor. Tapi kurang dari 24 jam, 500 ekor langsung habis,” katanya.
Saat serangan itu muncul, dia sudah menghubungi Dinas Peternakan tapi tidak ada tanggapan. Kata Prabowo dia tak tahu apa yang terjadi sehingga petani tidak bisa berbuat apa-apa.
Jumlah ayam yang mati terus bertambah. Di kandang milik kelompok harus dikosongkan. Semua ayam telah mati.
Petani sangat dirugikan. Sebab bantuan bibit dan pakan itu membuat petani menggunakan dana kelompok dari kredit KPPE. “Lalu bagaimana ini. Padahal dana itu kami peroleh dari pinjaman. Kami mohon Dinas Peternakan ikut tanggungjawab,” bebernya.
Tak hanya kelompok yang resah serangan ayam mati. Warga sekitar juga khawatir. Sebab ratusan ayam-ayam mereka juga ikutan mati.
“Yang jelas saat ini, ayam-ayam di rumah warga juga ikut mati. Jumlahnya mencapai ratusan,” kata Wawan.
Atas kejadian ini Tim Dinas Peternakan dan Perikanan datang ke lokasi. Bahkan tim juga membawa Tim Ahli peternakan dari Propinsi Jatim. Tapi kedatangan tim terlambat.
Setiba di lokasi, mereka tidak bisa melihat kondisi ayam yang hidup. Tim hanya melihat tumpukan bangkai ayam berserakan.
“Kami juga belum tahu apa penyebab ayam-ayam ini mati. Jika dilihat dari jumlah yang mati banyak, kami curiga ini flu burung. Namun kami belum bisa memastikan sebab alat tidak kami bawa kami bawa,” kata Budiyanto, Kepala Laboratorium Kesehatan Ternak, Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur.
Terkait program percontohan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Jember, Dalhar, tak berhasil dikonfonfirmasi. Ponselnya juga tidak aktif.
Tapi Sunyoto, staff dinas tak bisa memberi penjelasan. “Masalah ini akan kami tampung. Dan akan kami ajukan sebagai bahan rapat. Semoga saja ada solusi,” katanya.
Soal program yang gagal, pihaknya akan memberi bantuan bentuk lain ke kelompok. Tapi tunggu keputusan Kepala Dinas.kim

[+/-] Selengkapnya...

WARGA HADANG MOBIL BATU MANGAN (Mn)

• Buntut Penolakan Tambang di Silo

JEMBER - Polemik pro kontra pertambangan Mangan (Mn) di Desa Pace, Kecamatan Silo makin memanas.

Kemarin malam, puluhan warga geram lantas mencegat kendaraan pengangkut tambang Mn itu di tengah jalan milik CV Wahyu Sejahtera.
Kata saksi Khusnul, puluhan warga saat menggelar pengajian dan mendengar ada kabar aktifitas tambang Mn terus berlanjut oleh CV Wahyu Sejahtera di lahan milik PT JA Wattie masyarakat bergemuruh.
Dari kesepakatan warga, DPRD dan Pemkab Jember melalui Dinas Perdagangan bahwa aktifitas pertambangan Mn di Dusun Curahwungkal, Desa Pace, Kecamatan Silo, tepatnya di Kebun Curahmas, dihentikan sementara.
”Kita mendapati satu pikap bermuatan penuh tambang Mn. Padahal dari Pemkab Jember sudah ada himbauan tambang dihentikan sementara karena masih pro-kontra pembukaan tambang di masyarakat,” kata Khusnul.
Setelah mencegat pikap, warga memanggil aparat Polsek Silo. Tapi sopir justru kabur dan masih dikejar. Polisi hanya berhasil mengamankan barang bukti sebongkah batu Mn dan sebuah mobil pikap untuk sarana pengangkut.
Senada disampaikan Kepala Dusun Curah Wungkal Syaifudin.”Kita sudah menanyakan penambangan petugas kebun, di sana ada mobil mengangkut batu Mn. Kita menyesalkan tambang ini masih berlanjut, sebab warga masih menyatakan belum setuju atas tambang Mn itu,” ujar Syaifudin.
Dia menambahkan, beberapa waktu lalu CV Wahyu Sejahtera sempat menggalang 1.000 tanda tangan dari warga untuk persetujuan aktifitas penambangan Mn.
“Kita menduga tanda tangan itu palsu, sebab kita tahu warga disodori tanda tangan bukan soal persetujuan tambang tapi hanya diberitahu mau bekerja ditambang atau tidak,” ujarnya.
Dia menambahkan, rencana DPRD dan Pemkab Jember melalui Dinas Perindustrian dan Perdangangan kros cek pemalsuan tanda tangan, sampai kini belum dilakukan.
”Kroscek tanda tangan itu sampai sekarang kita tunggu,” ujarnya.
Sedang Ketua Gerakan Nasional dan Kelestarian Lingkungan Hidup PCNU Jember Abdul Qodim menyesalkan masih adanya kelanjutan tambang Mn itu.
”Kita juga menyayangkan polisi terlambat mengatasi potensi konflik itu. Apalagi DPRD dan Disperindag belum tegas terkait kebijakan tambang di sana.
Kepala Disperindag Jember Ir Haryanto mengatakan jika tidak ada izin tambang maka bisa disebut penambangan liar. Soal kroscek tanda tangan dia akan menindaklanjuti bersama pihak anggota Dewan Komisi B.
Sedang Kapolsek Silo Iptu M Zainuri mengatakan sopir pengangkut tambang itu kini sedang diburu.”Kita masih memeriksa sejumlah saksi saja,” kata Iptu M Zainuri. kim


[+/-] Selengkapnya...

BUPATI AKAN DITINGGAL BKSDA

• Jika Tidak Setujui Usulan Ijen sebagai Taman Nasional

JEMBER - Dari 4 Kabupaten di Tapal Kuda, (Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, dan Jember) hanya Kabupaten Jember yang belum merestui penandatanganan penetapan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur II terkait penetapan Taman Nasional Ijen.
Semula kawasan Ijen adalah masuk kawasan 4 Kabupaten Tapal Kuda itu. Tapi, berhubung banyak penebangan liar di sekitar hutan tersebut maka untuk menekan itu diusulkan Ijen sebagai Taman Nasional. Usulan itu sebenarnya sejak tahun 2000. Tapi, baru diproses belakangan.
Dari empat Kabupaten yang terkena kawasan itu, baru Jember yang belum merestui dan belum tandatangan. Dengan penetapan kawasan Ijen sebagai Taman Nasional, maka kawasan itu murni masuk ke daerah Kabupaten Bondowoso saja.
Kawasan yang masuk Kabupaten Jember hanya 3.000 hektare. Hingga kemarin, belum ada respon dari Bupati Jember terkait usulan itu.
Kawasan Taman Nasional Gunung Ijen direncanakan seluas 53.000 hektar. Sebelumnya, kawasan ini berstatus cagar alam dan taman wisata alam (CATWA). Semua proses administrasi telah mendapat persetujuan dari 2 Bupati sekitar kawasan, yakni Situbondo, dan Banyuwangi.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur II, Abdullah Effendi Abbas mengatakan baru tiga kabupaten yang dimintai rekomendasi.
"Tapi setelah pengukuran ternyata 3.000 hektare area kawasan taman nasional masuk ke wilayah Jember. Dan kita mengusulkan ke Kabupaten Jembe,r” ujarnya.
Yang pertama ditanyakan kepada BKSDA adalah kontribusi yang bakal diterima Pemkab Jember, jika 3.000 hektare wilayah Jember masuk kawasan Taman Nasional Ijen. Pertanyaan ini tak langsung bisa dijawab.
"PAD bisa ada tapi tidak bisa dihitung langsung. Semua Kabupaten ini bertanya itu, karena Ijen sudah terkenal di dunia melalui biro – biro perjalanan wisata di Bali. Jika mau tentu hasilnya jangka panjang,” ujarnya.
Yang terpenting dari Taman Nasional adalah konservasi alam. Proteksi Ijen berguna bagi wilayah sekitar, karena merupakan tempat reservasi air.
Sekitar 2 Juni 2009, Pemkab Jember diharap telah menyetujui Ijen sebagai Taman Nasional. "Kalau tidak, ya kami akan tinggal. Sementara cukup tiga kabupaten saja," tegasnya.
Sekadar diketahui, kawasan terbesar Ijen itu meliputi Banyuwangi dan Bondowoso. Terkecil lainnya adalah Situbondo, dan Jember. Dari empat Kabupaten yang ingin mendapat PAD dari Ijen itu, hanya Jember yang alot.
Adapun alasan Ijen dijadikan Taman Nasional dengan luasan 53.000 hektar yang direncanakan sejak tahun 2000 ini karena hutannya masih murni dan hutan lindung masih terawat.
Kedua, Ijen sangat baik untuk reservasi air, karena di (kawasan) bawah ada kawasan lahan pertanian. Selama ini hutan di kawasan Ijen sering terbakar. Ada kekhawatiran, jika hutan sering dijarah dan terbakar, akan memunculkan potensi bencana alam banjir.
Catatannya daerah hutan Ijen di kawasan Bondowoso mengalami kerusakan parah. Jika Ijen sebagai Taman Nasional, maka habitat elang Jawa akan terlindungi.
Dari hasil penelitian maka setelah diperebutkan 4 Kabupaten, BKSDA memutuskan kantor Balai Taman Nasional Ijen ditempatkan di Bondowoso. Sebab Bondowoso adalah satu-satunya kabupaten yang belum ditempati kantor untuk keperluan konservasi alam. kim


[+/-] Selengkapnya...

GERAKAN SEJUTA POHON KLH DAN PT TELKOM


JEMBER – Gerakan Sejuta Pohon (GSP) dilakukan serentak di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, melibatkan semua unsur masyarakat desa setempat, mulai dari Tokoh Masyarakat, Ulama, perangkat Desa, Karang Taruna, Organisasi Kepemudaan, hingga pelajar SMA dan SMK se Kecamatan Kencong, Jumat (20/3) pagi didukung oleh PT Telkom Jember, dan Perhutani.
General Manager (GM) Kandatel Telkom Jember Ir Noufel yang ikut dalam acara itu mengatakan siap membantu siapapun anggota masyarakat untuk kelangsungan aneka ragam hayati. PT Telkom sebagai bagian dari stake holder bangsa merasa senang dan akan selalu mendukung.
Terlihat kelompok PKK, dan HIPPA se Kecamatan Kencong menerima bantuan bibit tanaman yang berasal dari Kantor Lingkungan Hidup Pemkab Jember, dan Perum Perhutani KPH Jember. Mereka antusias menanam di lahan masing – masing dan lahan – lahan yang rawan bencana di stren kali.
Aksi ini difokuskan di Desa Paseban, Kecamatan Kencong dalam bentuk Gerakan Sejuta Pohon dimotori langsung oleh Kepala Kantor KLH Drs H Ahmad Hariadi Msi. Jenis bibit tanaman yang ditanam di lahan – lahan sekitar sungai dan lahan masyarakat adalah jenis Ketepeng 1000 pohon, Mahoni 5.500 pohon, Trembesi 1000 pohon, Sawo Kecik 1000 pohon, dan Mangga 800 batang.
Menurut Hariadi, GJP ini dilakukan dengan motto “walaupun besok langit akan runtuh hukum lingkungan harus ditegakkan”. Dengan semangat selamatkan Bumi, selamatkan lingkungan, selamatkan air, dan selamatkan masa depan bangsa, GJP dilakukan untuk memberi warisan kepada generasi muda yang akan datang agar alam menjadi lestari.
Karena melihat potensi tanah di Kabupaten Jember yang subur dan banyak sungai maka banyak potensi bencana yang bisa muncul jika ekosistem tanaman tidak mendukung. Semisal di DAS Silo, Mayang, hingga Puger yang juga sampai ke Sungai Bondoyudo Kencong saat musim penghujan sering muncul kekhawatiran terjadinya bencana alam.
Jika itu terjadi, maka harta benda masyarakat miskin di pedesaan ikut terhanyut dan kerugian material sangat besar. Maka dari itu gerakan ini dilakukan sebagai wujud instrospeksi diri manusia yang mendiami bumi ini. “Sekaligus membantu dan mendorong program nasional melestarikan alam,” ujar Hariadi. kim

[+/-] Selengkapnya...